Rabu, 16 Juni 2010

Pundi Amal SCTV Peduli Pendidikan Anak


KETULUSAN membagi kasih dan memberi bantuan kepada sesama dipegang teguh Pundi Amal SCTV. Dari sejumlah besar bantuan yang diberikan, perhatian kali ini diberikan pada kualitas pendidikan anak-anak usia dini. Mewujudkan moto tersebut, Direktur Utama SCTV Fofo Sariaatmadja bekerja sama dengan Indonesia Herritage Foundation (IHF) memulai gerakan pendidikan holistik berbasis karakter. Acara berlangsung di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (11/5).

Program ini diperuntukkan bagi guru sekelas taman kanak-kanak (TK) dari Yayasan Kemala Bhayangkari. Begitu penting manfaat kegiatan ini. Sebab pendidikan yang diterapkan sejak dini akan menjadi pondasi kuat bagi peserta didik. "Karena karakter itu istilah katanya mengukir. Jadi anak-anak itu bisa terukir akhlaknya sehingga terlihat sekali dari prilakunya juga perasaannya," jelas Ratna Megawangi, Pendiri dan Direktur Eksekutif IHF.(As)

Meningkatkan Kepedulian terhadap Sesama yang Miskin


Semua headline surat kabar Indonesia pada 16 September 2008 lalu menampilkan peristiwa mengenaskan yang terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, hari sebelumnya. Maksud hati berbuat baik. Tetapi yang terjadi justru menewaskan 21 jiwa. Warga Pasuruan berdukacita secara mendalam gara-gara berebut zakat sebesar Rp 30.000,-.

Sulit dibayangkan bahwa ribuan orang mesti berdesak-desakan untuk mendapatkan zakat itu. Sebenarnya bukan hal baru pembagian zakat yang dilakukan oleh seorang pengusaha ini. Sejak tahun 1980-an, pengusaha kulit yang sukses ini merelakan sebagian penghasilannya untuk mereka yang miskin.

Namun kali ini, pembagian zakat justru berakhir dengan maut. Dunia ini tampaknya begitu kejam. Maksud baik bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan bagi kehidupan. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa hal ini bisa terjadi?

Tentu saja maksud baik pengusaha kulit itu tidak bisa disalahkan begitu saja. Ia sudah berusaha untuk memperhatikan sesamanya yang membutuhkan. Ia ingin berbuat amal bagi sesamanya yang kekurangan. Namun usahanya yang mulia itu justru berubah menjadi peristiwa mengenaskan. Jiwa manusia melayang. Jiwa manusia tidak bisa diselamatkan.

Situasi kemiskinan begitu mendera kehidupan manusia Indonesia. Mereka terlilit oleh kebutuhan yang begitu mendesak. Berbagai cara mereka tempuh untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Peristiwa pembagian zakat di Pasuruan menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Kebutuhan pokok hidup manusia mesti dipenuhi. Kalau tidak, kemiskinan akan terus mendera kehidupan manusia.

Kita semua dihadapkan pada suatu realitas bahwa masih ada begitu banyak masyarakat di negeri ini yang miskin. Untuk memenuhi kebutuhan pokok saja belum bisa mereka penuhi. Lantas siapa yang mesti bertanggung jawab atas hal seperti ini? Menurut undang-undang dasar negara kita, fakir miskin dan anak-anak terlantar ditanggung oleh negara. Sampai sejauh mana negara kita memiliki kepedulian terhadap rakyat yang miskin dan terlantar?

Dari peristiwa ini kita bisa belajar sesuatu yang bernilai bagi hidup manusia. Kepedulian terhadap sesama yang miskin dan menderita memang penting. Hal ini mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Namun persoalannya terletak pada bagaimana cara melaksanakan kepedulian kita itu. Orang beriman mesti memiliki banyak cara untuk mendahulukan keselamatan jiwa manusia.

Sebagai orang beriman, kita diingatkan untuk memiliki berbagai kreativitas dalam membantu sesama yang miskin dan menderita. Keselamatan hidup sesama kita juga menjadi tanggung jawab kita semua. Karena itu, mari kita meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama yang miskin dan menderita. Tuhan memberkati. **

Pengalaman Pramugari China Airline


Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayanipenumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking ,penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkulsebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saatitu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesanpertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah majuseorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketikamelewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, diaduduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karungtua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikantangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatasbagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannyaduduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat diaduduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan jugaditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah diasakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilettetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takutmerusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya danmenyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saatmenyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannyakami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kamimengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini denganspontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkankepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidakpercaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidakdiladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghematbiaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandarabaru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapatmeminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupunkebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenangmeminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik,putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliahditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemputkedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunyadi Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobilbegitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemanibapaknya bersama-sama ke Peking , tetapi ditolak olehnya karenadianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikerasdapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anakbungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruhmenitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikerasmembawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebutakan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur,akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasitempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakankarung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, diaselalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi diatetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudahsangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil diamenanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakanmakanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernahmelihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebutuntuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimataseorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, denganterharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kamibagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akankami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolakpemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakantidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulustersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaranberharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapisiapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, diayang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintupesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidakbisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembahkami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakanbahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yangbegitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidakmemandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik,saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangisdia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya danmenyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluardari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpangsudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain,tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanyamenjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yangkami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tuayang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkanterima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering danmenahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidakbersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebutmembuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangatberharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang daripenampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

- peace & love -

KISAH KEPITING



Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 2000, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting.

Bagaimana cara memancing Kepiting?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat
sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu
akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan
dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang
kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang,kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena MARAH .

Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.

Senin, 14 Juni 2010

Pertanyaan Seorang Gadis



Seorang gadis bertanya kepada kekasihnya :

Girl : Apakah aku pernah terlintas dalam pikiranmu?
Boy : Tidak

Girl : Apakah kamu benar-benar menyukaiku?
Boy : Tidak

Girl : Apakah kamu menginginkanku?
Boy : Tidak

Girl : Akankah kamu menangis jika aku pergi?
Boy : Tidak

Girl : Maukah kamu hidup untukku?
Boy : Tidak

Girl : Maukah kamu berbuat apa saja untukku?
Boy : Tidak

Girl : Pilih aku atau hidupmu?
Boy : Hidupku

Gadis itu berlari pergi dan merasakan sakit, dan laki-laki itu berlari setelahnya dan berkata....

Alasan mengapa aku tidak pernah memikirkanmu, adalah karena kamu selalu ada dalam dipikiranku.

Alasan mengapa aku tidak menyukaimu, adalah karena aku mencintaimu.

Alasan mengapa aku tidak menginginkanmu, adalah karena aku membutuhkanmu.

Alasan mengapa aku tidak akan menangis jika kamu pergi, adalah karena aku bisa mati jika kamu pergi.

Alasan mengapa aku tidak ingin hidup untukmu, adalah karena aku akan mati untukmu.

Alasan mengapa aku tidak akan berbuat apapun untukmu, adalah karena aku akan berbuat segalanya untukmu.

Alasan mengapa aku memilih hidup, adalah karena KAMU HIDUPKU.

Hanya Sedetik




Beberapa hari yang lalu aku menerima telepon dari salah seorang teman kuliahku yang sudah lama sekali tidak pernah terdengar kabarnya. Pembicaraan yang semula mengenai kegembiraan masa lalu dan acara wisuda yang baru saja ia lalui berubah menjadi pembicaraan yang sangat menyentuh hati ketika ia bercerita mengenai ayahnya.

Kesehatan ayahnya yang memburuk akhir-akhir ini membuat ia harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Karena penyakit yang dideritanya, ayahnya menjadi susah tidur dan sering berceloteh sendiri. Temanku yang sudah beberapa hari terakhir tidak pernah tidur karena menjaga ayahnya menjadi jengkel dan berkata dengan ketus pada ayahnya supaya ayahnya diam dan tidur dengan tenang. Ayahnya menjawab bahwa ia juga sebenarnya ingin beristirahat karena ia sudah lelah sekali, dan jika temanku itu keberatan menemani dirinya, biarlah ia sendiri menjalani perawatan di rumah sakit.

Setelah berkata demikian, ayahnya menjadi tidak sadarkan diri dan harus menjalani perawatan di ICU (intensive care unit). Temanku begitu menyesal atas kata-kata yang tidak selayaknya keluar dari mulut seorang anak kepada ayahnya sendiri.

Temanku yang aku kenal sebagai orang yang tegar, menangis tersedu-sedu di ujung pesawat teleponku. Ia berkata bahwa mulai saat itu, setiap hari ia berdoa agar ayahnya sadar kembali. Apapun yang ayahnya akan katakan dan perbuat pada dirinya akan diterima dengan senang hati. Ia hanya berharap pada Tuhan agar diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya yang lalu, yang mungkin akan disesali seumur hidupnya...

Sering kali kita mengeluh ketika menemani atau menjaga orang tua kita hanya dalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, bahkan dalam hitungan menit. Tapi pernahkah kita pikirkan bahwa orang tua kita menemani dan menjaga kita seumur hidup kita dan seumur hidup mereka. Sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga tiba saatnya ajal menjemput, mereka selalu menyertai kita. Ketika pada akhirnya mereka menghadap Sang Kuasa pun, seluruh kenangan yang mereka tinggalkan selalu menyertai selama hidup kita.

Bayangkan betapa hancur hati kedua orang tua kita oleh (hanya) sepatah kata yang singkat, "tidak", yang keluar dari mulut kita ketika mereka berusaha merengkuh kita dalam pelukan kasih sayang sejati, yang justru sering kita lihat sebagai sesuatu yang mengekang dan menahan kita untuk terbang bebas di angkasa. Entah kata apa lagi yang paling tepat untuk menggantikan kata "tangis" bila tiada lagi air mata yang keluar dari kedua mata mereka, karena telah habis digunakan untuk menyirami hari-hari dalam kehidupan kita agar terus tumbuh dan menghasilkan bunga dan buah yang menyemarakan hari-hari kelam dalam roda kehidupan yang terus berputar.


Kita dapat mulai berjanji pada diri masing-masing bahwa sejak saat ini tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketika menemani dan menjaga kedua orang tua kita. Tiada lagi keluhan yang keluar dari mulut kita ketika merasa meraka terlalu memperlakukan kita seperti anak kecil. Percayalah, di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita yang mempunyai orang tua, yang merindukan hal-hal yang kita keluhkan, tetapi tidak pernah mereka dapatkan.

Sebenarnya, hanya sedetik waktu yang dibutuhkan untuk merenung dan menyalakan lentera yang akan membimbing kita ke tempat di mana kedamaian terpendam. Sekarang tinggal tergantung dari diri kita sendiri, maukah kita meluangkan waktu yang sangat singkat itu namun besar artinya untuk sepanjang perjalanan hidup kita.

Jangan Jadi Gelas

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya. "Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. "Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."